Semua tahapan proses dalam logistik, baik first, mid, dan last-mile delivery, memiliki tantangannya masing-masing. Namun, seluruhnya memerlukan optimasi biaya dan transportasi untuk layanan yang lebih efektif dan menguntungkan.

Selama pandemi Covid-19, sektor logistik di Indonesia meningkat cukup signifikan. Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) mencatat, arus pengiriman barang naik hingga 40 persen selama pandemi. Kenaikan ini disumbang oleh industri farmasi, alat kesehatan, dan barang-barang konsumsi (consumer goods).

Ketua umum ALI, Mahendra Rianto, menjelaskan peningkatan arus pengiriman barang terjadi di tahap last-mile delivery, atau pengiriman dari ritel ke konsumen. Data Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) menunjukkan transaksi pembelian lewat toko daring atau e-commerce meningkat 18.1 persen dibanding tahun sebelumnya jadi 98.3 juta transaksi pada tahun 2020.

Namun, Mahendra juga menyebutkan sempat terjadi penurunan pada tahap first-mile (pengiriman bahan baku ke pabrik untuk mendukung proses produksi suatu barang) dan mid-mile delivery (pengiriman barang yang sudah jadi ke ritel). Penurunan tersebut mengakibatkan pergerakan kontainer dan jumlah kapal ikut turun. Ujungnya, terjadi kelangkaan kontainer yang berimbas pada lonjakan biaya pengiriman.

Lonjakan tersebut membuat biaya sewa satu kontainer naik hingga 100 persen. Ini menjadi tantangan bagi perusahaan logistik sejak awal pandemi hingga saat ini. Kelangkaan kontainer juga mengakibatkan keterlambatan pengiriman barang.


Biaya dan optimisasi transportasi, tantangan dalam logistik

Di awal 2021, Tech in Asia membuat kuesioner yang ditujukan kepada para penyedia layanan integrator sistem logistik untuk mengetahui tantangan yang dihadapi oleh para pelaku usaha. Para manajer (setara kepala bagian dan direksi perusahaan) dari enam perusahaan yang menjadi responden menyatakan sejumlah kliennya sedang berupaya untuk melakukan pengurangan biaya dan optimasi transportasi.

Kuesioner tersebut juga menemukan bahwa pengurangan biaya dan optimisasi transportasi merupakan tantangan paling besar dalam industri ini. Kurang optimalnya aspek transportasi adalah dampak dari kondisi geografis Indonesia yang berbentuk kepulauan. Masih ada ketimpangan ketersediaan infrastruktur antara Pulau Jawa dan pulau-pulau lainnya.

“Kami telah bekerja sama dengan beberapa mitra di Indonesia untuk melaksanakan uji coba solusi kami bagi para pengemudi truk. Harapannya, kami bisa aktif secara resmi di Indonesia pada penghujung tahun,” ujar Anang Fahmi, CEO and Co-Founder, Fleetsumo.

Saat ini, Indonesia menjadi negara di Asia dengan biaya logistik termahal, yakni hampir mencapai 24 persen dari nilai produk domestik bruto (PDB). Angka ini lebih tinggi dibanding Vietnam sebagai negara dengan biaya logistik tertinggi kedua di Asia sebesar 20 persen dari PDBnya, bahkan negara kepulauan seperti Filipina hanya memiliki biaya logistik sebesar 13 persen dari PDB negara tersebut.

Menurut Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Transportasi Carmelita Hartoto, tingginya biaya logistik tersebut disebabkan oleh pembangunan infrastruktur di Indonesia yang belum optimal.


Optimisasi transportasi di darat dan laut

Dalam mengurangi biaya logistik, khususnya pada tahap first-mile, Haulio menyediakan jasa pengangkutan on-demand yang menghubungkan bisnis dengan para perusahaan pengangkutan kontainer. Dengan mengikuti tren ‘ride dan bike-sharing’, Haulio memungkinkan klien berbagi truk kontainer secara daring melalui platformnya.

Dengan informasi dari pelabuhan tentang pergerakan kontainer, Haulio mampu menyesuaikan kebutuhan pengangkutan klien dengan ketersediaan truk pengangkut sesuai permintaan. Pengalaman ini serupa dengan ketika seseorang menggunakan layanan yang ditawarkan oleh Grab atau Gojek.

Proses tersebut berbeda dengan cara tradisional yang kerap membuat bisnis harus menghubungi dan mengatur jasa pengangkut hingga ekspedisi sendiri secara luring. Dengan Haulio, klien cukup menerbitkan permintaannya di dalam platform, lengkap dengan harga yang mereka atur sendiri dan memastikan layanan yang diberikan bisa diandalkan. Lalu, pengemudi truk akan ditugaskan berdasarkan algoritme.

Baik klien atau penyedia jasa pengangkutan memiliki platform dari masing-masing yang menghimpun informasi secara real-time, memastikan muatan kontainer sampai dari pelabuhan ke gudang atau depot tujuan.

Sementara untuk memastikan keamanan dan waktu perjalanan laut kontainer, Portcast berupaya mengombinasikan data eksternal seperti spesifikasi kapal, indeks ekonomi dan harga bahan bakar, cuaca, rute, serta informasi dari satelit nano, dengan algoritme machine learning milik Portcast. Bahkan, Portcast turut memperhitungkan potensi bahaya pada area yang tinggi risiko perompakan.

Portcast mengklaim klien cukup memberikan informasi tentang kontainer yang ingin dipantau. Kemudian, sistem buatannya akan memberikan prediksi waktu keberangkatan dan kedatangan kapal pengangkut, jadwal kapal terbaru, keterlambatan apabila ada beserta alasannya, dan tiap milestone yang dilalui kontainer.

Selain mengurangi waktu untuk melakukan pembaruan secara manual dan risiko kehilangan data, Portcast membantu kliennya meminimalkan biaya perpanjangan sewa kontainer karena keterlambatan menaikkan atau menurunkan kontainer ke dan dari kapal, sehingga kontainer perlu dititipkan di pelabuhan (demurrage) dan biaya keterlambatan mengembalikan kontainer kosong setelah dilakukan bongkar muat (detention).

Masih berhubungan dengan keamanan kontainer, startup Vantiq juga memiliki solusi menarik untuk meminimalkan risiko pencurian. Yaitu, dengan menyediakan kontainer anti pencurian yang difasilitasi oleh sebuah pengontrol di dalamnya. Ketika pintu kontainer dibuka, aplikasi Vantiq akan mengirim notifikasi ke ponsel pengemudi yang bertanggung jawab atas kontainer tersebut, serta mengunggah status baru kontainer ke pusat pemantauan.

Kabar dan kepastian, aspek penting bagi konsumen

Haulio dan Portcast berupaya memastikan para penggunanya selalu memperoleh informasi tentang keberadaan kontainer mereka. Kebutuhan serupa juga terdapat pada tahap last-mile delivery, yakni ketika barang diantarkan kurir logistik ke alamat tujuan pengiriman. 

Studi Bain & Company bersama Facebook pada 2020 menemukan sekitar 30 persen dari 8.600 konsumen yang disurvei di 6 negara Asia Tenggara meningkatkan frekuensi belanja online mereka selama pandemi. Menurut CEO Parcel Perform Arne Jeroschewski, peningkatan transaksi e-commerce yang terjadi selama pandemi membuat perusahaan mengelola hingga lebih dari 100 juta informasi pengiriman paket setiap hari. Angka itu naik lima kali lipat dibanding dengan masa sebelum pandemi.

Peningkatan volume belanja e-commerce ini membawa tantangan tersendiri bagi layanan logistik, tak terkecuali pada tahap last-mile delivery. “Di Asia Tenggara, 34 persen konsumenmasih melihat pengiriman paket sebagai hambatan terbesar dalam e-commerce. Selain itu, lebih dari 90 persen keluhan konsumen berhubungan keterlambatan pengiriman atau kurangnya komunikasi tentang status pengiriman paket,” kata Jeroschewski.

Related Post

Leave a Comment

Management Fleet |  Bagikan tanggung jawab di seluruh anggota tim dan capai alur kerja pemeliharaan armada ideal Anda.

Tentang Kami

Follow Us

Email: admin@fleetsumo.com
Phone: +62812-3141-1833